Obyek Wisata Bali

Monkey Forest Bali

Published on

Pulau Dewata rupanya tak hanya diisi oleh deretan pantai cantik dan tempat kuliner yang lezat, tapi juga hutan berisi ratusan monyet bernama Monkey Forest Bali. Hutan ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh pemerintah Bali, yang memiliki nama asli Mandala Wisata Wenara Wana atau Hutan Kera Suci.

Kira-kira kenapa ya disebut dengan “Kera Suci?” Apakah hutan ini bukan sekedar tempat wisata biasa dan jangan-jangan termasuk salah satu tempat keramat? Sebelum memutuskan untuk datang ke sana, inilah informasi penting yang perlu diketahui oleh setiap calon pengunjung.

Lokasi Monkey Forest Bali

Tempat wisata ini beralamat di Jalan Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar. Bagi pengunjung yang menginap di hotel, resort, atau wisma yang ada di sepanjang Jalan Hanoman hingga Jalan Monkey Forest, maka hutan monyet ini bisa didatangi hanya dengan berjalan kaki sekitar 5-10 menit saja.

Sedangkan untuk wisatawan yang berada di Bandara Ngurah Rai, bisa menggunakan transportasi berupa mobil sewaan, kendaraan umum, ojek atau taksi online, ataupun taksi biasa. Jarak kedua tempat ini sekitar 36 km, yang umumnya akan membutuhkan waktu perjalanan 60 – 75 menit.

Daya Tarik

Hutan monyet di Bali sebenarnya tidak hanya Monkey Forest Bali Ubud, tapi ada beberapa yang lain seperti Hutan Monyet Sangeh dan Monkey Forest Alas Kedaton, tapi Hutan Monyet Ubud ini menjadi salah satu yang paling hits karena sejumlah daya tarik berikut:

1. Panorama Alam yang Mempesona

Masuk ke area hutan seluas 12,5 hektar ini akan membuat para wisatawan terpukau dengan suasana alami dan sejuk dari rimbunnya pohon-pohon yang menjulang tinggi, serta aliran sungai alami yang airnya terlihat segar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Udayana Bali, hutan ini memiliki setidaknya 115 spesies pohon yang beberapa di antaranya dianggap suci sehingga sering dijadikan tempat menaruh sesajen.

Tapi meskipun masih alami, para wisatawan tidak akan kesulitan untuk melakukan perjalanan. Pasalnya, area hutan sudah dilengkapi dengan jalur-jalur trekking beraspal, jembatan, dan bahkan ada pemandu wisata untuk menemani para wisatawan, agar tidak tersesat dan bisa mengambil jalur trekking yang benar.

Jika ingin mendapat suasana paling indah dan tenang serta ingin sedikit relaksasi atau mengambil foto, waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau sore hari.

2. Melihat Banyak Monyet

Diperkirakan ada lebih dari 700 ekor kera di tempat wisata ini, dengan jenis keranya adalah Macaca fascicularis (kera berekor panjang). Panjang tubuhnya sekitar 38-55 cm, dengan berat 3-6 kg untuk betina dan 5-9 kg untuk kera jantan.

Sedangkan untuk bulu, warnanya berkisar dari coklat keabu-abuan hingga coklat agak kemerahan, dengan wajah yang identik berwarna abu-abu agak kecoklatan plus bulu yang membentuk jambul di atas kepala.

Kera-kera ini tak sekedar dibiarkan hidup bebas seperti di alam liar lho, tapi juga diamati, diteliti, dan bahkan dipelajari bagaimana pola makannya, apa saja kebiasaan mereka, cara hidupnya, perkembang biakannya, dan banyak lagi.

Saat berkunjung, para wisatawan bisa melihat primata lucu ini memakan pisang, berlarian ke sana-kemari, berayun, bersantai di atas pohon, bermain dengan teman-temannya, dan banyak lagi. Bahkan, para wisatawan juga bisa berinteraksi dengan mereka, lho.

Tidak seperti kera liar yang cenderung menjauhi manusia, kera-kera di dalam hutan ini bisa diberi makan dan bahkan bisa diajak selfie. Tapi saat memotret harus sangat berhati-hati ya, karena ada beberapa kera yang suka merampas kamera dan akhirnya merusaknya.

Selain itu, para wisatawan juga disarankan untuk tidak melakukan gerakan yang bisa memancing emosi kera dan menyimpan barang-barang penting di dalam tas, misalnya jam tangan, perhiasan, dompet, HP, kacamata, dll. Karena sejinak apapun mereka, mereka tetaplah hewan liar yang bisa tiba-tiba menyerang.

Tapi jika ingin melihat kera saat sedang jinak, pengunjung bisa datang sekitar jam 14.00 WITA. Karena pada jam ini, kera-kera sedang merasa kenyang setelah diberi makan oleh petugas, sehingga sifat liar dan agresifnya lumayan menurun.

3. Pura Sakral di Dalam Hutan

Selain menjadi rumah bagi ratusan primata, Monkey Forest Bali rupanya juga menyimpan bangunan kuno berusia lebih dari 700 tahun, lho. Jika direkam dengan kamera udara, bangunan-bangunan kuno yang terlihat seperti pura ini ternyata dibangun mengelilingi hutan.

Berdasarkan Kitab Lontar Lawas yang ditemukan di salah satu pura di dalam hutan, diperoleh informasi bahwa pura ini dibangun pada sekitar abad ke-14. Kala itu Pulau Dewata berada di bawah kekuasaan Dinasti Pejeng (atau disebut juga Dinasti Gelgel).

Pura-pura di hutan ini ada yang sudah rusak dan hanya dijadikan tempat bermain oleh para kera, tapi ada juga yang masih bagus dan dijadikan sebagai tempat ibadah. Pura yang masih bagus ini terbagi menjadi tiga, yaitu pura utama bernama “Pura Dalem Agung”, yang lokasinya ada di sebelah barat daya hutan.

Pura kedua bernama “Pura Beji”, yang memiliki sumber air alami dan dianggap suci, sehingga dijadikan air pembersih diri. Pura ketiga bernama “Pura Prajapati” yang lokasinya ada di timur laut hutan dan hanya berjarak beberapa meter dari area kuburan tua yang sudah jarang digunakan, tapi dianggap keramat.

Kuburan ini biasanya akan difungsikan per lima tahun sekali, yaitu saat melakukan kremasi jenazah massal atau disebut juga dengan “Ritual Ngaben”.

Masing-masing pura utama tadi memiliki patung penjaga di bagian depan, yang terlihat sangat tua dan penuh dengan lumut. Ketiga pura utama dan pemakaman tua tidak boleh didatangi oleh orang luar Bali termasuk para wisatawan saat ada ritual keagamaan/ibadah.

Fasilitas

Selain sejumlah daya tarik di atas, alasan lain mengapa Monkey Forest Bali selalu ramai adalah fasilitasnya yang memadai, mulai dari jalur trekking yang nyaman, area tempat duduk, pagar pembatas, toilet, tour guide, dan bahkan ada penjual buah pisang jika wisatawan ingin memberi makan para monyet.

Harga Tiket Masuk

Wisatawan dewasa akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 80.000 per orang, sedangkan anak-anak usia 3-12 tahun dikenakan tarif tiket sebesar Rp 60.000 per anak. Harga tiket ini berlaku untuk semua wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, dan bahkan untuk orang Bali sendiri.

Tarif Parkir dan Jam Buka

 

Tarif Selama 1 Jam

 

 

Tarif Setelah 1 Jam Pertama

 

Jenis Kendaraan

Rp 15.000 Rp 7.500/jam Bus berukuran sedang hingga besar
Rp 10.000 Rp 5.000/jam Bus berukuran kecil (jumlah seat kurang dari 20)
Rp 5.000 Rp 2.000/jam Mobil
Rp 2.000 Rp 1.000/jam Sepeda motor

Sedangkan untuk jam operasional, Wisata Monkey Forest Bali dibuka dari jam 08:30 – 17:30 WITA setiap hari (termasuk saat libur Nasional dan hari minggu).

Jika sudah bosan dengan pantai-pantai cantik di Bali dan ingin mencari alternatif destinasi wisata lainnya, Monkey Forest Bali menjadi salah satu yang terbaik. Tempat ini merupakan perpaduan nyata antara keindahan alam, sejarah, budaya, dan keharmonisan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2021 KANHA MEDIA